Thursday, January 5, 2012

Yuk, Megibung di Warung Mina

Warung Mina cukup punya nama di Bali, khususnya di kalangan penduduk asli. Pertama, karena harganya cukup murah. Kedua, karena sajiannya memang cukup enak. Apalagi karena Mina – sesuai namanya – memang menampilkan hidangan ikan segar yang menjadi kesukaan banyak orang.

Warungnya yang pertama berlokasi di Peguyangan, sebuah banjar di pinggiran Denpasar. Tetapi, karena warung ini kemudian menjadi sangat ramai – bahkan setelah bangunannya dimekarkan – maka pemiliknya kemudian memutuskan untuk buka cabang. Sejak saat itu, dalam waktu singkat Warung Mina sudah mekar menjadi lima gerai. Bahkan, Warung Mina juga hadir di Renon, tempat kantor-kantor pemerintah di Denpasar. Cabangnya di Ubud baru saja buka tahun 2009 lalu. Dari segi setting, mungkin inilah cabangnya yang tercantik. Di samping bale besar, ada beberapa bale bengong (saung, gubug) ditebar di taman yang indah.


Bila Anda datang bersama keluarga atau teman-teman, menu yang paling cocok untuk dipesan adalah paket megibung. Megibung adalah tradisi makan bersama di Bali. Satu paket makanan dihidangkan di tengah, dikelilingi 5-6 orang. Paket megibung di Warung Mina khusus untuk empat orang.

Isinya adalah 4 mangkuk kuah, satu ikan gurami goreng, satu ikan gurami bakar, 4 pepes lele, tahu goreng, tempe goreng, plecing kangkung, terong bakar, sambal matah, sambal terasi. Kuahnya rasa soto, dengan bola-bola bakso gurami. Segar sekali! Pepes lele-nya juga sangat mengesankan. Lele ukuran sedang dipotong-potong, dilumuri base genep (bumbu lengkap Bali), dibungkus dengan daun kemangi, dan kemudian dibakar dalam bungkusan daun pisang.

Kalaupun kualitas masakannya tergolong sip markusip, tetapi pengalaman makan (dining experience) megibung seperti ini menurut saya – sungguh tidak dapat dilewatkan.
dikutip : detik.com

Wednesday, January 4, 2012

Masakan Peranakan Sajian Tika Panggabean

Artis komedian Tika Panggabean ternyata tak hanya juara di panggung, tetapi juga piawai "menciptakan" restoran yang terbukti laris-manis dan telah mekar beranak-pinak menjadi beberapa cabang.

Bermula dari satu restoran di Tarogong, Jakarta Selatan, sekitar enam tahun yang silam, sekarang Radja Ketjil telah punya lima cabang lain, yaitu: Plaza Semanggi, Pondok Indah Mal 2, Tebet, Alam Sutera di Serpong, dan Cihampelas Walk di Bandung.

Radja Ketjil – sesuai dengan namanya – bernuansa djadoel (djaman dahoeloe), dan menyajikan masakan peranakan Tionghoa-Indonesia. Bukan hanya nama restonya yang dieja dengan ejaan lama, melainkan juga kartu menunya. Selain itu, nama-nama menunya juga dibuat unik, seolah-olah memang "datang" dari masa lalu melalui kapsul waktu. Misalnya: soep poetri tambahsia, udang siotjia-siotjia, ajam tanatinggi, tjumi nona minta kawen, gohyong wan char lee, gado-gado iboesoeri, dan banyak lagi.

Favorit saya adalah tahoe hujin tje lie rina (Rp 33,5 ribu). Masakan sederhana ini dibuat dari tahu sutra yang lembut, dikukus dengan sayur pocai, kemudian disiram dengan bumbu-bumbu gurih dan topping jamur mutiara. Mak nyuss!

Oedang Nona Minta Kawen-nya (Rp 35 ribu) juga "bole dipoedjiken". Ini adalah udang goreng dengan bumbu minimalis garam cabe yang memang merupakan salah satu jenis sajian peranakan yang populer. Selain udang, cumi-cumi juga bisa digoreng dengan bumbu yang sama. Ada juga Kepiting Hitam Manis (Rp 71,5 ribu) yang tidak lain adalah kepiting dimasak dengan lada hitam.

Ayam Hong Kong yang digoreng garing, berwarna kemerahan, aroma harum bumbu ngohiong – banyak dipesan pelanggan Radja Ketjil. Masakan ayam lainnya termasuk ayam kungpao, ayam nanking, dan ayam ibutiri (goreng cabe rawit dan kemiri) yang khas.

Hidangan berkuah yang tidak boleh dilewatkan di sini adalah soep Boentoet Radja Ketjil (Rp 50 ribu, porsi individual). Daging buntutnya empuk, kuahnya gurih segar. Salad Keradjaan dan Gado-gado Iboesoeri adalah pilihan hidangan segar bagi mereka yang tidak makan daging.

Bila singgah ke sini di luar jam makan, ada keropok tjolek, singkong goreng, dan berbagai jenis kudapan yang dapat dipesan untuk menikmati suasana "Petjinan Tempo Doeloe" yang cukup berhasil dihadirkan oleh Tika Panggabean bersama teman-temannya.

Tuesday, January 3, 2012

Mak Nyuss! Australian Tenderloin Steak a la Kaki Lima




Jakarta - Warung steak ini selain harganya terjangkau rasanya juga menggoyang lidah. Tak heran jika selalu penuh sesak oleh pembeli. Daging sapinya diiris cukup tebal, sedikit lemak dipinggirannya memberikan rasa juicy plus aroma smokey yang sungguh mengugah selera. Siraman saus blackpepper hmm... membuatnya tambah mak nyuss!

Sebenarnya sudah cukup lama nama Joni Steak populer di kalangan pencinta kuliner khususnya para penggemar steak. Namun letaknya yang cukup jauh di kawasan Pasar Baru, membuat saya belum kesampaian mengunjunginya. Hingga akhirnya beberapa waktu lalu saat Joni Steak membuka cabangnya di kawasan Gajah Mada, wah saya pun nekat mengajak seorang teman untuk menyambanginya.

Letak Joni Steak bersebelahan dengan Bakmi GM Gajah Mada. Sayang tempat parkir yang terbatas memberi sedikit ketidaknyamanan, apalagi saat itu saya datang tepat di jam makan siang. Namun saat melangkah masuk, kami telah disambut dengan atmosfir ramah oleh para pelayan restoran.

Meskipun menempati ruko berlantai 3 namun di bagian bawah saja yang dipakai sebagai area bersantap. Meja tempat bersantap nyaris penuh dan beruntung saya masih mendapatkannya di sudut ruangan. Menurut teman saya, di cabang baru ini tempatnya jauh lebih bagus dan lebih nyaman dibandingkan dengan yang ada di Pasar Baru.

Selembar menu sederhana disodorkan kepada kami. Di bagian atas tertera aneka menu steak seperti sirloin steak, tenderloin steak, dan rib eye steak - kesemuanya bisa dipilih pakai daging lokal atau impor. Selain itu ada pula salmon steak, chicken steak, dan chicken schnitzel, chicken burger, dan spaghetti bolognise. Semua harganya tak lebih dari Rp 44.000,00.

Pilihan saya jatuh pada tenderloin steak impor dan chicken steak untuk teman saya. Untuk daging sapi impornya Jonisteak memakai daging impor dari New Zealand dan Australia dengan dua jenis saus yang ditawarkan yaitu blackpepper sauce dan mushroom sauce. Seporsi spaghetti bolognise, hasil 'mencontek' makanan milik tetangga di meja sebelah pun jadi menu tambahan.

Setelah pesanan dicatat, sepiring otak-otak disajikan di meja. Otak-otak ini ditawarkan Rp 3000,00 per buah, sayang rasa ikannya ternyata tidak begitu nendang dan teksturnya agak sedikit lembek dengan saus kacang yang sedikit terlalu asam di lidah. Tapi bolehlah dinikmati sambil menunggu pesanan atau jika perut memang sudah keburu terlalu lapar.

Pesanan saya muncul sekitar 15-20 menit kemudian. Tenderloin steak disajikan dalam piring putih lengkap dengan potato wedges dan setup sayuran yang terdiri dari irisan wortel, buncis, dan jagung manis. Dagingnya cukup tebal dengan tekstur sedikit gosong di permukaannya dan kesemuanya disajikan cukup memikat selera dengan siraman saus blackpepper.

Saya tak mengalami kesulitan saat mengiris daging dengan pisau. Saat daging disuapkan ke mulut hmm... dagingnya empuk agak sedikit chewy namun tidal alot, malah memberikan rasa yang enak saat dikunyah. Lemak yang berada di pinggiran daging memberikan sensasi juicy saat menikmati tenderloin steak ini. Wah, belum lagi aroma smokey yang samar-samar tercium memberikan jadi makin semangat menyantapnya.

Ternyata chicken steak pesanan teman saya juga tak kalah istimewa. Daging dada ayam tanpa tulang tersebut disajikan dengan pelengkap wajib setup sayuran dan potato wedges yang renyah. Hmm... aroma smokey lebih gencar lagi tercium dari daging ayam yang berlumur mushroom sauce kecoklatan tersebut. Daging ayamnya empuk dan masih terasa juicy - tidak kering, kontras dengan potato wedges yang digoreng renyah dan bikin ketagihan saat dicocolkan ke saus sambal.

Sayang spaghetti dengan topping tomato sauce dan parutan keju pesanan kami agak mengecewakan. Meskipun saus tomatnya tidak memakai saus tomat botolan, melainkan tomat segar yang dicacah halus sehingga jadi nilai plus tersendiri. Namun teksturnya sedikit terlalu kering dan cincangan daging sapi kurang terasa di lidah.

Rasanya saya menjadi paham kenapa Jonisteak selalu ramai dipenuhi pengunjung. Sebab dengan harga yang cukup terjangkau, yaitu Rp 44.000,00 untuk Tenderloin steak impor dan Rp 25.000,00 untuk Chicken Steak, pengunjung sudah dapat menikmati steak mak nyuss untuk steak sekelasnya. Setelah membuktikannya sediri, rasanya memang tak salah jika resto steak ini disebut-sebut sebagai steak kaki lima dengan kualitas bintang lima. Pastinya wajib untuk dicoba!

Jonisteak
Jl. Gajah Mada Raya No.91
Kota - Jakarta Pusat
Telp: 021-97882500
Jam Buka: 12.00 - 15.00 dan 18.00 - 22.00

Jonisteak (pusat)
Jl. Samanhudi No.65
(Dekat Hotel Classic)
Pasar Baru - Jakarta Pusat


Devita Sari - detikFood

Monday, January 2, 2012

Kantung Sperma Ikan Cod di Tatemukai



Jakarta - Masayuki Tatemukai adalah seorang chef dari jepang yang sudah lama tinggal di Indonesia. Semula ia bekerja di Kinokawa, Menara Thamrin. Kemudian ia pulang ke Jepang. Para pelanggannya pun protes karena kehilangan sentuhan istimewa Tate-san yang memang teramat piawai. Tate-san pun kembali ke Indonesia, lalu membuka restorannya sendiri di Grand Indonesia. Seperti para chef Jepang lain yang sudah punya nama harum, Tate-san pun langsung menamai restoran barunya itu dengan namanya sendiri.

Dari luar, restoran ini tampak tertutup rapat. Misterius! Interior yang didominasi kayu dan batu alam menampilkan aura Zen. Hanya ada beberapa kursi tinggi – seperti kursi bar – menghadap meja tinggi yang juga mirip meja bar. Di balik meja itulah Tate-san dan para chef Tatemukai menyiapkan sajian untuk para tamunya.

Jangan mengharap akan mendapat buku menu di restoran ini. Tatemukai yang hanya menerima tamu berdasarkan pesanan tempat ini menyajikan masakannya secara omakase (artinya: it's up to you). Chef akan memasak apa saja, dan para tamu tinggal duduk manis menerima semua masakan yang disajikan. Untuk restoran eksklusif seperti ini, para tamu pun agaknya merasa tidak perlu tahu berapa harga sajian.

Sekarang, karena jenis ikan yang biasanya diimpor dari jepang menurun drastis sejak tsunami, harga sajian Tatemukai adalah Rp 600-800 ribu per orang. Sebelum tsunami, harganya mencapai Rp 1,5 juta per orang – tergantung jenis ikan yang ada. Di saat itu, salah satu sajian istimewa Tatemukai adalah shirako alias cod milt, yaitu kantung sperma ikan cod. Tidak perlu Andrew Zimmern dari Bizarre Food untuk menyantap shirako ini. Beberapa petinggi detikcom pun ternyata sudah tercatat sebagai penyuka sajian unik ini.

Omakase di Tatemukai adalah suguhan mbanyu mili (sajian yang terus mengalir) antara 10-12 sajian selama sekitar satu jam. Pertama, edamame (kedelai rebus) disuguhkan sebagai hidangan pembuka. Sambil menikmati edamame, Chef Surya langsung beraksi mengiris tuna segar dan menyajikannya sebagai sashimi. Uniknya, irisan tuna segar ini sudah diberi kondimen dari miso (tauco Jepang) dan minyak wijen, sehingga tidak perlu lagi dicocol dengan campuran kecap asin dan wasabi.

Untuk sajian nomor tiga, Chef Surya meningkatkan aksinya. Ia membuat salmon sushi, lalu dengan besi panas memanggang bagian atas salmon. Mak nyuss! Dari sisi lain, chef lain ternyata menyiapkan tuna tataki yang ditata di atas mangkuk berisi pecahan es. Irisan tuna tataki ini diaduk dengan potongan julienne jahe muda dan kyuri (timun Jepang).

Dengan cepat hidangan nomor lima disiapkan di depan tamu. Kali ini adalah wagyu sushi yang kemudian di-panseared sebentar agar wagyu-nya mencapai tingkat kematangan medium. Hidangan nomor enam menyusul dari sisi lain. Ini adalah daging sapi dan udang dicincang, lalu dibentuk seperti shrimp cake dibungkus nori. Oishi-ne! Mak nyuss!

Hidangan nomor tujuh adalah shimeji (salah satu jenis jamur) digulung dalam selembar wagyu, lalu di-panfried. Perpaduan dua bahan yang menghasilkan tekstur dan citarasa sangat unik. Disusul dengan hidangan nomor delapan yang juga muncul dari sisi lain. Saya sungguh terkesan dengan sajian ini. Kalau boleh saya beri nama secara ngawur, sajian ini saya beri nama chawanmushi mentah. Memang itulah kenyataannya. Telur ayam mentah dengan kaldu ayam dan potongan udang, dikukus satu menit saja. Mak legendher!

Sajian nomor sembilan dan sepuluh dihadirkan bareng. Ebi furai (tempura udang) dan tuna maki yang digoreng tepung. Yang terakhir ini sungguh unik dan istimewa, disajikan dengan mayones. Ensemble kuliner ini ditutup dengan grilled sanma (ikan bakar) dan salmon-avocado sushi.

Sebetulnya masih ada satu suguhan lagi, yaitu pilihan soba atau ramen atau udon – persis seperti Chinese banquette yang menghadirkan karbohidrat di bagian paling akhir. Tetapi, karena saya sudah terlalu kenyang, maka sajian terakhir ini terpaksa saya relakan untuk lewat. Konon, banyak tamu yang bahkan masih melanjutkan omakase setelah sajian karbohidrat itu saking terpukaunya oleh sajian Tatemukai yang memang istimewa itu.

Pencuci mulutnya adalah kue moci dari macha (teh hijau), dan greentea shaved ice. Sungguh, satu jam yang berlalu dengan cepat dalam sihir Tatemukai yang memukau.

Really, it's more than a meal. It's an extraordinary dining experience.

Tatemukai
by reservation only
Grand Indonesia
Lantai 3A, Unit FD-1-02
Jl. M.H. Thamrin1
Jakarta Pusat
021 2358 1807



Bondan Winarno - detikFood

Sunday, January 1, 2012

Sarapan Asyik di Kandang Burung Colibri


Bandung - Dua buah telur mata sapi tersaji langsung di atas wajan panas. Toppingnya irisan smoked beef, jamur champignon, dan 2 potong toast. Pelengkapnya, segelas Lychee Jello dengan nectar syrup yang asam segar. Tiupan angin sejuk plus hangat sinar matahari menyempurnakan sarapan ini.

Salah satu resto yang masih terbilang baru adalah Hummingbird Eatery & Guest House. Sebuah guest house yang juga sekaligus dilengkapi sebuah resto bergaya homey di Jl. Progo. Yang menarik justru resto ini punya sejumlah menu sarapan.

Hummingbird tampak mencolok dengan area outdoor yang berbentuk kandang burung melengkung dari anyaman besi berwarna putih. Di area halaman yang dipenuhi berbagai pohon dan tanaman sehingga tampak teduh. Begitu pula di bagian dalam, ditata alami dengan sentuhan kayu dan berbagai gambar burung hummingbird di dinding.

Untuk sarapan Hummingbird Eatery & Guest House sudah membuka pintu sejak pukul 7 pagi. Rupanya menu breakfast ini tidak hanya dimanfaatkan oleh pengunjung guest house saja. Para tamu dari luar yang sengaja datang untuk sarapan. Meski area bersantap di dalam resto tak kalah nyaman, namun area outdoor lebih disukai karena bisa makan sambil menghirup udara pagi yang segar.

Menu breakfast di Hummingbird memang cukup menarik, dibandingkan resto sejenis. Ada Skinny Dip bagi mereka yang ingin menikmati fresh fuit salad, Eating Mechine atau Egg Society untuk menu telur dan beef ham, Wrap Me Up yang berupa tortilla, atau Fully Monthy untuk sarapan porsi yang cukup besar. Sedangkan untuk menu main course terdiri dari hidangan Western, Italia, dan berbagai menu Asia.

Untuk memulai hari yang hangat, akhirnya Egg Society yang konon merupakan salah satu favorit pengunjung jadi pilihan. Untuk minumnya saya memesan segelas Lychee Jello dengan nectar syrup yang jadi signature Hummingbird. Sambil menunggu saya pun menikmati matahari pagi yang hangat dan angin pagi yang sejuk segar.

Wouw... sarapan pilihan saya disajikan unik. Bukan di atas piring melainkan di atas wajan penggorengan. Dua buah telur mata sapi dimasak setengah matang, diberi topping irisan smoked beef dan jamur champignon. Beberapa lembar daun basil sebagai topping, membuat sajian sederhana ini tampil makin menggoda.

Setelah dibubuhi sedikit lada dan garam hmm... langsung saja saya menyuapkan kuning telur yang langsung meleleh saat menyetuh lidah. Pelengkapnya dua buah toast yang diselipkan disisi wajan. Roti bakar ini sepertinya buatan sendiri, dioles butter tipis dengan tekstur empuk dan sedikit renyah di bagian luar. Dicocol dengan lelehan kuning telur hmm... makin yummy dan mulus di mulut!

Favorit saya adalah minumannya yang disajikan dalam gelas tabung tinggi. Minuman ini beraroma jeruk dengan campuran nectar, jelly dan irisan buah leci yang cukup royal. Nectar merupakan cairan manis yang diperoleh dari sari bunga. Biasanya cairan manis ini dihisap oleh binatang terutama serangga dan burung. Di Hummingbird, nectar digunakan untuk sebagai gula yang mereka makan.

Tambahan soda memberi sensasi mengigit dan segar pada minuman ini. Sementara parutan halus kulit jeruk menambah segar rasanya. Slurppp... sekali hirup hmm suegar rasanya! Uniknya dua buah sedotan sekaligus dipilin ditaruh dalam gelas. Wah, kalau yang ini cocoknya memang dinikmati berdua dengan pasangan!

Saat ingin pulang saya pun sempat tergoda dengan aneka cake yang menggoda dari balik etalase. Hmm.. Opera Ckae, Red Velvet, Green Tea yang menjulang tinggi dengan 4 buah layers sangat menggoda! Buat penyuka teh juga bisa membeli koleksi the. Ada teh Jasmin, Morrocan Mint, Pai Mu Tan, dan lain-lain.

Khusus breakfast di Hummingbird Eatery & Guest House bisa dipesan hingga pukul 11.00. Sedangkan untuk main course, soup, salad, dan crapes, bisa dipesan mulai pukul 10.30 sampai malam. O ya, khusus menu breakfastditawarkan mulai dari Rp 17.500,00 - Rp 35.500,00. Saat berada di Bandung dan ingin sarapan asyik, mampir ke sini saja!

Hummingbird Eatery & Guest House
Jl. Progo No. 14
Bandung
Telp: 022-4212582
Breakfast: 7.00 - 11.00
Lunch & Dinner: 11.00 - 22.30


Devita Sari - detikFood



 
Photography Templates | Slideshow Software