Monday, January 16, 2012

Makanan Autentik Turki di Turkuaz

Satu lagi tempat makan yang menyajikan makanan khas dan autentik Turki di Jakarta. Lokasinya pun lebih mudah dijangkau. Dekorasi yang elegan menyambut saya di restoran ini. Gaya Turki yang diadopsi dalam menata interior ruangannya membuat saya terlena sejenak, seolah berada kembali di Istanbul. Perpaduan Asia dan Eropa yang sangat mulus.

Kejutan kedua adalah ketika mengetahui bahwa ternyata Chef di retoran ini adalah Sezai Zorlu yang sudah belasan tahun tinggal di Jakarta dan memimpin dapur di restoran Turki favorit saya.

Sayangnya, karena saya datang sendiri pada saat makan siang, maka saya terpaksa melewatkan mezze alias appetizers khas Turki yang selalu menggoda. Mezze Turki biasanya terdiri atas: humus (bubur dari chickpeas) dicocol dengan sobekan roti pita, tabouleh (salad dari parsley, tomat dan timun, dengan dressing dari sirup delima), tahinli patlican (bubur terong), babaganush (terong dan paprika bakar, mirip verdure alla griglia, appetizer Italia populer), dan lain-lain. Dalam tradisi Turki, mezze tidak boleh dilewatkan – khususnya bila makan malam bersama keluarga dan kerabat. Dengan mezze, obrolan bisa lebih panjang dan seronok.

Untuk hidangan utama, saya menerima saran waitress yang ramah untuk memesan shish kebab dari daging sapi (Rp 195 ribu). Kebab adalah daging panggang yang merupakan sajian tradisional Turki. Kebab yang dibuat dari daging cincang disebut adana atau kofta. Kebab dari daging panggang yang disayat tipis dan digulung roti (rolled kebab) disebut durum. Sedangkan kebab yang dibuat dari daging dipotong kubus dan dirangkai pada tusukan (seperti sate) disebut shish kebab. Dagingnya bisa dari daging ayam, kambing, maupun sapi. Kebab ayam tentu saja lebih murah harganya.

Pesanan saya datang dalam tampilan yang sangat menarik. Potongan daging sapinya tampak montok dan juicy, berbaris di atas selapis roti pita, terselang-seling dengan irisan paprika merah dan hijau. Semangkuk icli pilaf (nasi bumbu khas Turki, mirip nasi goreng) dan beberapa iris roti pita tersaji di samping daging sapi panggang.

Pisau yang meluncur mulus ketika mengiris daging sapi langsung mengucurkan natural juice dari daging panggang itu. Gurih, empuk, muluuuus. Mak nyuss! Karena melihat saya terlalu bersemangat menghabiskan salad bawang merah yang menyertai daging panggang itu, waitress pun langsung berinisiatif memesankan porsi salad bawang merah tambahan untuk saya. Salad itu dibawa sendiri oleh Chef Sezai Zorlu yang kemudian duduk menemani saya makan. Menurut Chef Zorlu, keempukan daging panggang itu adalah hasil marinasi daging dalam bumbu selama semalam, dan kemudian dipanggang di atas bara arang.

Kalau Anda familiar dengan kuliner Turki, ada minuman khas yang perlu dipesan di sini, yaitu ayran – minuman dari yoghurt dengan sedikit air dan garam. Minuman menyegarkan ini cocok dipesan untuk mendampingi berbagai desserts khas Turki, seperti baklava, rice pudding (bubur nasi dan susu), dan berbagai kudapan manis lainnya. Kahva (kopi Turki) dengan lokum (Turkish delight) yang manis akan menjadi penutup yang sungguh tak terlupakan.

Sunday, January 15, 2012

Hong Kong-style Seafood di Bangkok

Di Bangkok, ada satu restoran seafood yang sangat populer – khususnya di kalangan para wisatawan. Restoran yang sudah eksis sejak tahun 1969 itu bernama Somboon. Popularitas Somboon juga telah menyebabkan munculnya berbagai restoran dengan nama dan penampilan yang mirip. Misalnya, ada yang memakai nama Somboon Dee, dan dikenal dengan harganya yang mencekik leher.

Di seluruh Bangkok, Somboon yang asli hanya punya lima restoran, yaitu di: Surawong, Bangna, Sam Yan, Ratchada Pisek, dan Bantadthong. Waspadai juga ulah para pengemudi taksi atau tuktuk yang sering membawa tamunya ke restoran lain, atau mengelabui seolah-olah Somboon tutup pada siang hari atau pada hari itu. Tempat-tempat “palsu” itu biasanya memasang harga jauh lebih mahal karena harus memberi komisi kepada pengemudi taksi atau tuktuk.

Somboon yang asli justru tidak mahal. Kepiting besar dibandrol 300 baht (sekitar Rp 90 ribu) per porsi. Masakan udang sekitar 150 baht. Yang agak mahal – bila dibanding dengan harga Jakarta – adalah bebek peking yang dihargai sekitar Rp 250 ribu.

Bila melihat daftar menu-nya yang mencakup lebih dari 100 jenis masakan, kebanyakan sajian Somboon adalah mirip dengan sajian resto seafood di Hong Kong.Saya memesan lumpia udang yang ternyata sangat mirip dengan sajian serupa di Indonesia. Di Pontianak, sajian ini disebut he keng. Beberapa restoran di Jakarta menyebutnya sebagai udang segobang. Dicocol dengan saus asam-manis sedikit pedas. Di Bangkok, tentu saja sausnya memakai saus ikan dengan aroma khas.

Masakan udang lainnya yang populer adalah udang kukus bawang putih dan udang goreng telur asin. Aha, mirip pula dengan banyak sajian serupa di restoran seafood Jakarta, bukan?

Masakan yang paling populer dan banyak dipesan di Somboon adalah kari kepiting. Situs web Somboon bahkan tidak malu menyebut dirinya sebagai: the best crab curry in Asia. Bagi kita dari Indonesia yang punya banyak restoran kepiting andalan, tentu saja tidak akan begitu saja percaya dengan klaim seperti itu. Khususnya bagi saya yang punya standar baku: bahwa kari yang mak nyuss harus memakai daun kari ataau salam koja. Padahal, kari kepiting Somboon ini tidak memakai daun kari.

Tetapi, sajian yang satu ini memang cukup istimewa. Kuah karinya kental, dicampur kocokan telur, dan bernuansa manis, melumuri potongan-potongan besar kepiting. Kepitingnya digoreng dulu sebelum dimasukkan ke dalam kuah kari kental. Sayangnya, di restoran ini tidak tersedia roti mantau goreng untuk mencocol kuah.
Udang goreng telur asinnya juga istimewa. Saya justru terkesan pada masakan yang disebut yod mara. Ini ternyata tumis pucuk labu yang crunchy dan sungguh menawan. Bahkan ada hint rasa trasi/blacan di dalam bumbu minimalisnya.

Saya juga memesan ikan kukus yang rupanya juga banyak dipesan. Ikannya dari jenis seabass berdaging lembut. Bumbunya mencuatkan aroma bawang putih dan minyak wijen yang cantik. Kuahnya encer dengan rasa asam yang segar.

Somboon adalah pengalaman makan yang cukup unik di Bangkok. Tetapi, seandainya tidak sempat, tidak rugi juga. Mirip dengan yang di Jakarta, kok.
dikutip : detik.com

Friday, January 13, 2012

Warisan: Toko Mebel tapi Restoran

Warisan adalah restoran garda depan yang kemudian merintis transformasi Kerobokan menjadi kawasan kuliner elite bagi Bali. Toko mebel dan pernak-pernik rumah ini mengubah salah satu sisi tokonya untuk menjadi tempat makan yang eksklusif.



Chef Nicolas "Doudou" Tourneville berhasil membuat orang sadar bahwa Bali bukan hanya nasi jinggo dan ayam betutu, tetapi juga venue yang cocok untuk menghadirkan kuliner yang lebih serius. Sejak adanya restoran, Warisan justru lebih dikenal sebagai tempat makan ketimbang galeri mebel.

Doudou memang kemudian "loncat kapal" dan mendirikan Metis yang tidak jauh dari Cafe Warisan. Tetapi, Warisan tetap jalan terus. Sekarang, Chef Vincent Denayer dari Belgia memimpin tim dapur. Sekalipun saya tidak lagi dapat menemukan sajian couscous kesukaan saya, tetapi Warisan punya menu baru yang justru layak diuji.

Untuk makan siang, Warisan menyajikan set menu seharga Rp 99 ribu (two-course) dan Rp 130 ribu (three-course). Untuk restoran sekualitas Warisan, harga-harga itu boleh dibilang murah. Menu makan siang paling mahal pun masih di kisaran Rp 225 ribu.

Menu makan siang-nya cukup straightforward. Pilihannya tidak terlalu luas, tetapi mewakili berbagai kebutuhan. Untuk hidangan pembuka, misalnya, tersedia carpaccio tuna atau beef seharga Rp 70 ribu. Juga ada prosciutto dengan melon seharga Rp 80 ribu. Sandwich di kisaran harga Rp 45-80 ribu, dan pasta seharga Rp 40-120 ribu. Pasta yang termahal adalah lobster tagliatelle.

Dari beberapa pilihan salad, jangan lewatkan mango mozzarella millefeuilles with parma ham (Rp 95 ribu) yang sungguh unik – baik dari sisi penyajian maupun citarasa.

Untuk hidangan utama, saya memilih wagyu tenderloin with confit shallot (Rp 185 ribu). Disajikan dengan brokoli dan gratin kentang. Cara penyajian steak dengan saus acar bawang merah ini (a l'echalotte) memang khas Prancis. Steak-nya dipanggang dengan tingkat kematangan medium, dan saus bawang merahnya mengingatkan saya pada saus parappe di Makassar. Bedanya a l'echalotte memakai red wine sebagai sentuhan akhir. Mak nyuss!

Pilihan hidangan utama lainnya adalah: crispy fried barramundi (Rp 99 ribu), grilled tuna (Rp 90 ribu), Australian ribeye steak (dengan saus bearnaise dan blue cheese, Rp 225 ribu). Yang terakhir ini pernah saya cicipi pada kunjungan sebelumnya, dan harus juga mendapat nilai mak nyuss!

Seperti juga kebanyakan restoran di Bali, Warisan mempunyai ambience yang menyenangkan. Di bagian belakang, terlihat hamparan sawah yang asri, membuat tamu betah duduk berlama-lama menikmati sajian lezat dan semilir angin serta gemerisik pada di sawah. Tidak salah bila Bali hingga kini masih menggengam reputasinya sebagai Paradise Island.
dikutip : detik.com

Thursday, January 12, 2012

Serunya Belanja Plus Ngemil di Tokyo Connection

Beberapa menu populer Jepang ditawarkan di restoran ini. Sebut saja sushi, ramen, donburi, sampai aneka crepes dan snack ringan untuk menemani bersantai. Khusus penyuka pernak-pernik berkarakter Jepang, bisa memuaskan diri di gift shop mungil yang ada di samping resto. Woww, seru!

Tokyo Connection baru melakukan soft opening di bulan Agustus 2011 lalu. Tak salah bila restoran yang berlokasi di Jl. Progo No.5 ini membuat saya penasaran untuk mampir. Apalagi dari depan, interiornya ditata unik dengan deretan jendela-jendela kayu terbuka. Dibaliknya mengintip kursi-kursi nyaman yang mencerminkan ambience santai di restoran bergaya Jepang ini.



Sebuah palang gift shop mungil menghentikan saya untuk melangkah masuk ke dalam restoran. Pasalnya ada pernak pernik lucu dan unik yang mengintip dari dalam toko. Benar benar menggoda mata. Ada bakiak Jepang, dompet, payung, jam - beberapa ada yang bergambar karakter Jepang seperti doraemon atau hello kity. Boleh juga dijadikan oleh oleh atau sekedar cuci mata.

Saat menuju ke area restoran. Bagai berpindah dimensi, saya disambut oleh suasana bak di pinggiran jalanan Tokyo. Area ini lebih terkesan lebih private dibanding area lainnya. Lampunya lebih redup dan tak banyak pelayan berlalu-lalang. Bahkan sebuah tombol untuk memanggil pelayan tersedia di tiap -tiap meja.

Jejeran lampu jalan yang berfungsi sebagai lorong untuk berjalan membuat kental suasana jalanan. Foto-foto berwarna dan hitam putih wanita Jepang berkimono yang menghias dinding resto, memperkuat suasana Tokyo di masa lalu. Tetapi, kalau ingin suasana yang lebih santai lebih baik memilih area di beranda depan atau area belakang restoran.

Pilihan menu di Tokyo Connection sangat beragam mulai dari sushi, ramen, donburi, sampai curry dan teriyaki. Berhubung cuma ingin sekedar santai, sengaja tidak memesan makanan berat. Chik n' Cheese dan Soseji Barbeque Crepes jadi pilihan untuk ngemil sore itu. Pendampingnya segelas Iced Greenpuccinno jadi pilihan. Lagu pop Jepang yang diputar menambah asyik suasana gaya Tokyo ini.

Iced Greenpuccinno disajikan dalam gelas berkaki, berwarna cokelat kehijauan dengan topping whipped cream yang menjulang sampai melewati bibir gelas. Diatas whipped cream diberi sirup caramel yang tak begitu royal. Sayang rasa matcha tak meninggalkan jejak di lidah, justru yang lebih dominan adalah rasa kopinya.

Chik n' Cheese disajikan sederhana dalam wadah mangkok beralas lettuce. Dibentuk menyerupai satai dan berseling dengan buah nenas yang digoreng. Tiga potong chikuwa yang dibalut dengan tepung roti tipis ini terasa renyah saat digigit. Chikuwa merupakan bakso ikanpanggang yang bentuknya mirip tabung berlubang tengah. Rasanya kenyal gurih dengan isian lelehan keju. Dicocol saus asam manis rasanya lebih oke.

Sedangkan Soseji Barbeque Crepes disajikan dalam piring lebar. Crepes-nya super tipis dan di bagian atasnya ada sepotong beef sausage yang diberi saus BBQ, mustard, cherry tomato dan irisan smoked beef. Hidangan ini dilengkapi lettuce dan daun bawang yang ditumis hingga kecoklatan. Rasanya tidak terlalu istimewa ditambah beef sausage-nya kurang gurih di lidah. Tapi bolehlah sekedar jadi cemilan ringan sambil mengobrol santai di sore hari.

Segelas Iced Greenpuccinno dihargai Rp 18.000,00 sedangkan untuk Chik n' Cheese dan Soseji Barbeque Crepes masing-masing Rp 15.000,00 dan Rp 26.000,00. Kapan-kapan kalau ke Bandung lagi, mungkin saya harus mampir lagi untuk mencicipi sushi atau ramen di Tokyo Connection.

dikutip : detik.com

 
Photography Templates | Slideshow Software