Monday, February 6, 2012

Bersantap di Markas Ninja Jepang yang Misterius

 Berpakaian tertutup dan serba hitam, membawa pedang, serta bergerak dengan lincah. Inilah ninja. Agen Jepang misterius ini mungkin hanya bisa kita lihat di film atau cerita fiksi. Namun, di Taiwan, Anda dapat bertemu dengan ninja jago masak.

Ya, ninja yang satu ini memang pandai memasak makanan a la Jepang. Ia bekerja di restoran 'Ren Zhe' atau 'Ninja' di ibu kota Taiwan, Taipei. Restoran berlantai 3 ini menyajikan pengalaman makan unik dengan suasana misterius a la Jepang kuno.

Di sini, semuanya serba ninja. Bagian depan restoran ditutupi dengan batang-batang bambu. Terlihat ada patung ninja yang sedang merayap di dinding. Saat Anda masuk ke dalam, Anda akan melihat air terjun. Ketika Anda mengucapkan kata rahasia, gerbang di balik air terjun akan terbuka dan Anda bisa masuk ke area makan. Ajaib!

Anda akan diantar ke dalam restoran temaram, ditemani oleh pelayan berkostum merah hitam a la ninja. Di daftar menu ada sushi, sashimi, sup, nasi goreng, dan makanan Jepang lainnya. Ternyata penyajiannya pun a la ninja! Nasi goreng dibentuk bintang bersudut empat, khas senjata ninja. Skewer atau sejenis sate disajikan dengan ditemani sebilah pedang.

Sambil makan, Anda akan disuguhi macam-macam atraksi sulap menarik. Misalnya, staf restoran tiba-tiba memunculkan api di atas telapak tangan mereka, entah dari mana asalnya. Selain itu, salah satu pelayan wanita akan berkeliling dan mengajak pengunjung bermain. Jika si pelanggan kalah, ia akan dipukul dengan senjata bohongan. Tapi jika ia menang, ada minuman gratis sebagai hadiahnya.

Menurut salah satu pengunjung, rasa makanan di sini biasa saja. Harganya pun relatif mahal untuk ukuran Taiwan. Per orang bisa menghabiskan sekitar Rp 200 ribu. Menurut manajer restoran, harga makanan dan minuman di sini disesuaikan dengan target pengunjung, yaitu pegawai kantoran. Wajar saja, restoran ini terletak di tengah kepadatan kota.

Ou Chia-wei dan istrinya, sang pemilik restoran, merancang konsep a la ninja ini tanpa bantuan desainer. Mereka menghabiskan biaya Rp 4 miliar lebih. Selain restoran Ninja yang berkapasitas 150 orang ini, mereka juga memiliki restoran bertema rumah sakit di Taiwan.

Ternyata, di negara lain ada pula restoran yang bernama dan bertema ninja, yaitu Ninja Akasaka di Jepang dan Ninja New York di Amerika Serikat.

dikutip : detik.com

Sunday, February 5, 2012

Kepala Ikan Bakar Rica Super-Pedis dari Airmadidi

 Kata "rica" seakan wajib senantiasa lekat pada masakan-masakan lezat dari Minahasa. Rica sendiri sebenarnya berarti cabe atau lombok. Jadi, cabe-kah yang menjadi "senjata pamungkas" untuk membuat masakan-masakan Minahasa yang lezat?



Salah satu masakan rica yang legendaris dan seringkali ditenteng sebagai oleh-oleh ke Jakarta adalah kepala ikan bakar rica dari RM Sukur Jaya di Desa Sukur, Airmadidi. Rumah makan di luar kota ini sangat populer dan selalu dicari penggemarnya. Akhirnya, sejak beberapa tahun yang lalu, rumah makan ini membuka cabangnya di Megamas, kawasan rekreasi dan belanja paling elite di Manado.

Sajian utama RM Sukur Jaya adalah kepala ikan kakap yang dibakar dengan bumbu rica. Kepala ikan yang berukuran paling kecil dibandrol Rp 37,5 ribu. Porsi ini cukup untuk dimakan satu orang dengan tingkat kelahapan normal. Kalau mau yang lebih mantap, harus pesan yang porsi besar dengan harga Rp 40-45 ribu. Tetapi, bila makan berdua, sebaiknya memesan kepala ikan yang berukuran super, dengan harga antara Rp 80-100 ribu. Mantaaapfff!

Kepala ikannya hanya sebelah. Jadi, dapat dibayangkan betapa besar ukuran ikan kakap hidupnya. Setelah dibersihkan, dikucuri lemon cui (limau kasturi, lemon cina), kepala ikan ini dibakar di atas arang tempurung kelapa. Setelah setengah matang, lumuran tebal rica tumbuk (sambal) dioleskan ke seluruh permukaan kepala ikan, dan terus dibakar sampai matang.

Kepala ikan bakar rica super-pedis ini dijamin membuat kepala berkeringat dari ubun-ubun. Daging-daging berlemak yang menempel pada tulang-tulang kepala itu langsung lepas begitu dicabik. Dagingnya gurih, manis, dengan balutan sambal pedas yang gurih. Mak nyuoosss! Sadap, jo!

Sekali coba, langsung jadi sakauw alias ketagihan. Semua yang pernah mencicipi kepala ikan bakar rica ini pasti kembali lagi untuk menikmatinya lagi dan lagi.

Pendamping yang tepat untuk kepala ikan bakar rica ini adalah bunga pepaya tumis atau paku (pakis) tumis. Bila ingin ikan yang lebih berdaging, silakan pesan bobara (ikan kuwe) atau garopa (kerapu) bakar. Cumi bakarnya juga juara.

Kalau alergi ikan atau tidak suka ikan, satu-satunya non-seafood yang dapat dipesan di sini adalah ayam woku blanga – masakan yang harum dan lezat favorit saya. Tetapi, karena ayam jarang dipesan di rumah makan ini, bahan baku ayamnya disiapkan dalam keadaan beku, sehingga memerlukan waktu sekitar setengah jam untuk menghidangkan sajian ini.

dikutip : detik.com

Friday, February 3, 2012

Meracik Sendiri Mi dan Nasi Goreng Fresh From The Wok

Ingin menikmati quick lunch bermenu sederhana seperti nasi, mi, udon, bihun atau kwetiaw? Di sini, semuanya bisa diracik sendiri. Mau pakai telur, sayuran, bakso, daging sapi dengan bumbu juga bisa. Sreng... sreng... jadi dalam sekejap di depan Anda!

Wok Inn adalah sebuah restoran mungil yang ada di jejeran kafe-kafe dan restoran yang ada di Epicentrum Walk. Tempatnya mungil, sederhana dengan tatanan kursi-kursi dan meja kayu plus sebuah counter kecil. Di bagian luar terdapat satu dua meja bagi yang ingin bersantap di luar area resto.



Di Wok Inn pengunjung harus memesan makanan mereka di counter dan kemudian membayar. Di papan menu terbagi jadi 3 bagian atau step. Pesanan menu diracik berdasarkan pilihan pengunjung, tidak ditentukan oleh sang koki. Inilah yang jadi ciri khas di resto ini. Sambil memesan sesekali bau harum masakan yang lezat pun mampir mengelitik hidung dari wajan.

Menunya tergolong sederhana. Di papan menu tertulis langkah-langkah dalam memesan, mulai dari "Step1" hingga "Step3". Wah, seru juga! Step pertama, pengunjung bisa memilih bahan utama makanan seperti nasi, mi, kwetiaw, bihun, atau udon. Untuk harga tersebut ditawarkan Rp 19.500,00 dan Rp 23.000,00.

Nah, "Step 2" berupa pilihan buat mereka yang ingin memesan tambahan topping seperti fish ball, daging sapi, daging ayam, udang, brokoli, dll. Kalau tidak mau juga tidak masalah, karena makanan yang dipesan semuanya sudah ditambahkan telur dan sayuran. Langkah terakhir, barulah memilih jenis saus yang diinginkan. Wok Inn menawarkan 5 jenis saus pilihan seperti Spicy Java Sauce, Oyster Sauce, Curry Sauce, Tdan Tom Yam Sauce.

Pilihan kami jatuh pada kombinasi mi plus spicy java sauce dan tambahan topping shiitake mushroom. O ya, jika suka bisa juga memesan kombinasi makanan lainnya. Contohnya seperti memadukan brokoli dan bokchoy dengan beef steak sebagai bahan paduan dengan saus tiram.

Sambil menunggu saya menikmati jus unik 'Foco' yang terdiri dari kombinasi mangga dan markisa yang rasanya asam segar! Sementara suara wok alias wajan yang diketuk ketuk plus bau wangi bawang dan daging menguap menjadi latar yang menggoda selera di resto ini.

Mi saus Jawapun disajikan dengan orsinya cukup besar. Hmm..benar-benar mengepul panas... fresh from the wajan. Hmm... aromanya gurih sedap! Minya memakai mi hokkian yang kenyal, sedangkan paduan bahannya lumayan royal. Irisan tipis shiitake mushroom, telur, sawi dan daun bawang.

Penampilan minya cukup menggoda, warnanya sedikit kecoklatan dan tidak terlalu pedas meski saya memilih saus Spicy Java. Teksturnya kenyal enak dan tidak kering melainkan sedikit nyemek alias basah wah... pas dengan selera saya. Kalau suka bisa ditambahkan sedikit acar timun, wortel, dan rawit yang tersedia di meja. Rasanya lebih segar dan pedas mengigit. Huahh... enak!

Brokoli yang ditumis dengan beef steak ini porsinya ternyata cukup besar sehingga bisa juga disharing untuk berdua. Saat dipadukan dengan mi rasanya sangat serasi. Apalagi si brokolimasih krenyes renyah. Sedangkan irisan fillet beefnya empuk dengan balutan saus tiram yang gurih enak.

Untuk kombinasi mi plus shiitake mushroom dihargai Rp 31.500,00 dan Brokoli plus beef steak Rp 34.500,00. Untuk makan malam atau sekedar quick lunch, rasanya Wok Inn bisa jadi alternatif pilihan yang pas buat pengisi perut apalagi jika disantap berdua atau bertiga.

dikutip : detik.com

Thursday, February 2, 2012

Bercucuran Keringat Ditonjok Ayam Taliwang

Buat penyuka pedas boleh menjajal lidah Anda di resto yang menyajikan menu khas Lombok yang serba pedas ini. Ada ayam seraten dan ayam plecing yang empuk namun bikin lidah menari-nari kepedasan. Siap-siap saja menyeka keringat yang bercucuran!



Pondok Sekarbela yang terletak di seberang lapangan bola Blok S ini menyajikan aneka masakan tradisional khas Lombok. Pastinya makanan Lombok memang terkenal dengan menu-menunya yang serba pedas. Saya yang penyuka pedas ini pun merasa tertantang saat diajak untuk bersantap di sini.

Beberapa meja plus sofa-sofa memanjang ditaruh di sudut yang merapat ke dinding, selebihnya kursi dan meja-meja biasa. Menu andalan di resto ini adalah Ayam Sraten. Tetapi karena ingin mengetahui perbedaan Ayam Seraten (Rp 28.000) dan Ayam Pelecing (Rp 30.000), akhirnya saya memutuskan memesan keduanya dengan porsi 1/2 ekor dan tingkat kepedasan sedang dan pedas.

Untuk ayam bisa dipesan baik per potong, 1/2 ekor, atau 1 ekor. Namun berhubung memakai ayam kampung yang kecil, maka porsi pas untuk menyantapnya adalah porsi 1/2 ekor untuk per orang. Seporsi plecing kangkung (Rp 10.000) dan tempe goreng (Rp 9.000) turut melengkapi hidangan malam itu.

Selain itu ada pula beberapa menu khas Lombok yang bisa dijumpai seperti Beberuk, yaitu terong yang dipotong-potong dan diberi bumbu berupa ulekan cabai rawit, bawang, dan tomat. Lalu ada Sate Pusut, Kime-Kime Daging Sapi, Rajang Ayam, dan beberapa paket bersantap untuk dua dan empat orang.

Akhirnya hidangan tiba dengan penampilan yang menggugah selera. Ayam pelecing disajikan dengan lumuran bumbu yang royal plus irisan jeruk nipis dan lalapan. Begitu pula dengan ayam seraten meski bumbunya tidak seroyal ayam pelecing namun hmm... tak kalah memikat selera. Wah, rasanya makin mantap saat dinikmati tanpa sendok alias dengan memakai tangan.

Kedua ayam ini memakai ayam kampung berukuran kecil. Tekstur dagingnya sangat empuk sehingga tak sulit mengoyaknya dengan tangan. Ayam pelecingnya disiram dengan sambal pelecing yaitu cabai rawit, tomat, dan sedikit terasi. Saat ayam plecing disuapkan ke dalam mulut huahh... pedasnya sambal langsung mengigit lidah.

Bahkan tempe goreng yang saya pesan tak mampu meredam gigitan si cabai rawit Lombok. Pasalnya tempe goreng tersebut juga dibalut tepung tipis renyah berbumbu cabai yang pedas-pedas enak. Rupanya sumber rasa pedas si ayam pelecing berasal dari cabai rawit kering lombok yang terkenal itu. Pantas saja puedesnya benar-benar nonjok... makin nikmat saat disuap bersama nasi putih hangat. Pokoknya dua jempol buat pedasnya si ayam pelecing!

Berbeda dengan ayam seraten dengan tingkat kepedasan sedang. Ayam yang satu ini dibakar terlebih dahulu, sehingga bumbunya lebih meresap dengan sensasi pedas-pedas manis yang enak. Untuk menemaninya pelecing kangkung jadi pendamping yang pas dengan sensasi krenyes kangkung yang renyah, tauge, serta kacang tanah yang enak.

Kali ini saya pun menyerah kepedasan dengan berbagai menu serba pedas di Pondok Sekarbela. Entah sudah berapa kali saya menyeka keringat yang bercucuran dan memesan minuman karena kesetrum pedasnya si cabai Lombok. Pokoknya buat mereka yang tidak suka pedas, jangan coba-coba memesan menu pedas di resto ini!
dikutip : detik.com

Wednesday, February 1, 2012

Blekuthak Hitam Top Markotop

Nasi jamblang adalah sajian khas Cirebon yang selalu dirindukan penggemarnya. Jamblang adalah nama sebuah desa di sebelah Barat Kota Cirebon. Di desa ini dulu ada seorang penjual makanan yang membungkus nasinya dengan daun jati agar tidak cepat basi. Lauknya sederhana: sambal goreng yang sungguh lezat, dengan berbagai masakan rumahan sederhana.

Bungkus daun jati kemudian menjadi default bagi sajian khas Cirebon ini. Herannya, tidak semua daun jati dapat dipakai sebagai pembungkus. Soalnya, daun jati dari daerah lain justru membuat nasi yang dibungkus berwarna semu kemerahan. Nasinya juga harus dingin dulu sebelum dibungkus. Bahkan, di warung-warung, bila nasinya tidak dibungkus, daun jati dipakai sebagai pengalas piring.

Pak Subur, yang membuka warung nasi jamblang di Jakarta, terpaksa mengalasi piring dengan daun pisang. Bila ada pesanan berskala besar yang mewajibkan penggunaan daun jati, Pak Subur harus "terbang" ke Cirebon untuk mencari daun jati.

Warungnya sendiri sangat kecil dan sederhana. Tidak ada tempat parkir untuk mobil. Kalau saya ke situ, biasanya saya parkir di Kantor Pos, dan menyeberang dengan jembatan penyeberangan. Jangan datang kesiangan, karena biasanya sekitar pukul 13 siang saja lauknya sudah tidak lengkap lagi.

Bagi saya – begitu juga teman-teman di Komunitas Jalansutra – Warung Pak Subur adalah nasi jamblang terbaik di Jakarta. Bagi saya, Pak Subur bahkan setara dengan nasi jamblang terbaik di dekat pintu masuk Pelabuhan Cirebon. Ciri utama nasi jamblang adalah sambal gorengnya yang istimewa. Beberapa penjual mencampur sambal gorengnya dengan hati atau daging sapi. Top markotop!

Dari semua lauk yang tersedia – tidak jarang sampai lebih dari 30 jenis, disajikan dalam cambung-cambung tertata berderet di meja – yang paling khas adalah blekuthak. Ini adalah semacam cumi-cumi yang bentuk tubuhnya tambun, dan dagingnya lebih kenyal. Dimasak dengan tinta hitamnya, blekuthak dengan nasi dan sambal goreng saja sudah membuat kita melayang di langit ke-sembilan.

Lauk lain yang harus dicoba adalah sayur daun singkong, perkedel, ikan tongkol masak pedas, ayam goreng, peyek udang, dan tempe orek. Pak Subur biasanya menyediakan sekitar 20 lauk setiap hari. Selalu berganti-ganti, sehingga kita selalu punya alasan untuk datang beberapa kali agar dapat lengkap mencicipi semua masakan berkualitas dengan harga murah meriah. Porsi Rp 10 ribu (nasi + blekuthak + sambal goreng) saja sudah cukup memuaskan. Apalagi kalau Anda siap membayar Rp 15-20 ribu. Pasti, kenyang pollll!

Sega jamblang, dimasak nganggo brambang. Abang bercambang, adik mabuk kepayang. He he he...

dikutip : detik.com

 
Photography Templates | Slideshow Software